Review Film Tjokroaminoto

Posted on

Mendengar nama H.O.S Tjokroaminoto maka yang muncul dalam benak saya adalah sebuah foto dari seorang pria lawas, paruh baya dan berkumis yang ada di buku sejarah kelas 5 atau 6 Sekolah Dasar. Sebelumnya, beliau, yang namanya cukup terdengar unik itu, yang saya tahu adalah seorang pendiri Sarikat Islam (SI). Sarikat Islam sendiri merupakan kelanjutan dari Sarikat Dagang Islam (SDI) tetapi dengan konsep organisasi dan pergerakan yang berbeda. Sungguh tidak banyak yang saya tahu dari beliau. Saya ingat beliau, pun itu dikarenakan namanya yang cukup terdengar unik, ha ha. Lagian, seingat saya, di buku sejarah, tentang beliau dan syarikat islam hanya dibahas sebanyak 2 halaman.

Main Character / Tokoh Utama

Di film ini yang menjadi tokoh utama adalah H.O.S Tjokroaminoto sendiri. Di film ini, Tjokro digambarkan sebagai seorang pria yang memiliki karakter yang tenang, tegas, berintegritas dan cerdas. Kepada sesamanya dia rendah hati, menginspirasi dan membesarkan hati mereka. Walaupun begitu, di tengah sosok yang tegas ini, ada selalu keraguan yang ia simpannya di dalam hati. Keraguan Tjokro tersebut adalah tentang makna ‘hijrah’, sebuah kata yang disampaikan oleh seorang kiai ketika beliau waktu kecil, dan terus menginspirasinya hingga akhir-akhir Sarikat Islam.

Saya tidak tahu bagaimana sosok/watak seorang Tjokro yang asli. Tetapi menurut saya, lewat film ini, sisi kemanusiaan Tjokro begitu tergambarkan, sehingga membuat penontonnya tidak lagi mempersepsikannya hanya sebagai sebuah foto hitam putih di atas buku sejarah. Tetapi ada yang saya sayangkan, mungkin, keidealisme-an Tjokro masih belum begitu tergambarkan. Secara beliau itu adalah Guru Bangsa, sedangkan di film ini, penggambaran tentang beliau, tidak begitu menambahkan kekaguman saya terhadap beliau. Tolong diperhatikan, yang saya maksud adalah penggambarannya, bukan fakta sejarahnya. Kalau fakta sejarah, tentu saja, siapa yang tidak kagum kepada seorang yang menghijrahkan suatu bangsa di tanah sendiri menuju tanahnya sendiri (dengan merdeka), padahal tekanan fisik dan mental datang dari berbagai arah. Saya memilih untuk meyakini bahwa beliau adalah ‘lebih’ dari yang digambarkan di film ini.

Tokoh Pendukung / Support Character

Istri Tjokro, namanya Suharsikin (jikalau tidak salah hehe), adalah salah satu tokoh sentral dalam film ini. Beliau digambarkan dengan stereotip perempuan jawa. Beliaulah yang selalu mendukung Tjokro dalam perjuangannya dalam kondisi apapun. Kisah cintanya dengan Tjokro seakan seperti titik tengah planet, gravitasi yang memutarkan segala yang berada di orbitnya. Jikalau ada perkataan, “di balik seorang pria yang hebat, ada wanita yang hebat”, maka seperti itulah meraka. Hubungan antara mereka berdua digambarkan dengan kesyahduan, ketentraman dan menguatkan. Walaupun terkadang menyentuh tapi tidak mencengengkan seperti roman klise indonesia atau sesyahwat kisah-kisah barat.

Murid-murid Tjokro, sekaligus penghuni kosannya, juga menjadi tokoh pendukung sentral. Yang begitu mendapat perhatian adalah Koesno (Soekarno) dan Semaun. Selain itu ada juga Agus Salim yang datang dari Sumatera. Murid lain seperti Muso dan Kartosuwiryo tidak begitu disorot, bahkan saya tidak tahu apakah Kartosuwiryo ada apa tidak di film itu.

Selain di atas ada beberapa tokoh pendukung yang saya tidak tahu apakah mereka benar ada apa tidak. Mereka itu seperti Stella si blasteran, Bagong pemain teater, dan Tukang Kayu (lupa namanya siapa).

Plot / Story

Dua setengah jam, film ini mencoba menggambarkan kisah Tjokro, Sarikat Islam dan pergerakanya secara menyeluruh (secara gambaran besar). Saya rasa film ini sukses dalam mencapai tujuannya tersebut. Tetapi dengan itu ada yang terkorbankan, yaitu kedetailan dan kefokusan film. Film ini mempunyai banyak latar tempat dan waktu. Seringkali meloncat dari satu latar ke latar lain. Semua pergerakan Sarikat Islam ingin digambarkan, mulai dari Barat Jawa (Bandung) sampai Timur Jawa (Surabaya). Sehingga, bagi yang sama sekali tidak mengenal Tjokro, Sarikat Islam dan orang-orang disekitarnya akan ada kesulitan tersendiri dalam memahami alur ceritanya.

Entertainment / Hiburan

Jikalau Anda adalah orang yang menganggap, pengetahuan sejarah adalah hiburan, maka film ini akan begitu menghibur Anda. Tetapi jika tidak, mungkin film ini akan terasa biasa saja.

Sinematografi

Beautiful-lah. Dengan penggambaran latar jawa dan juga budaya hingga isi pikiran rakyatnya tergambar dengan vivid, jelas. Membuat kita bisa merasa dekat dengan mereka. Yang selama ini kita lihat hanya foto hitam putih yang terasa jauh, di sini kita lihat begitu “bewarna”.

Soundtrack

Sepanjang film selalu dihiasi dengan suara dan lagu yang melatari drama dalam film ini. Terkadang dengan lagu/instrumen jawa, terkadang dengan lagu/instrumen Belanda. Malah ada beberapa scene musikal dalam film ini.

Verdict

Nilai = — / 10 (If you Indonesian, you should watch this)

Mungki cuma itu, sekelumit, yang bisa saya review. Saya mereview sebagai usaha untuk mengapresiasi karya anak bangsa yang mencoba mengangkat kisah pendahulu kita, yang entah seberapa banyak kita berhutang budi kepada meraka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *