Nilai Kemanusiaan dalam Islam

Perjalanan Pikiranku Akan Nilai Kemanusiaan Islam – Bunuhlah Mereka di Mana Saja

Posted on

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka – QS 2:191

Malam itu saya menemukan hal baru, sebuah realitas yang jauh dari idealisme. Waktu itu sekitar tahun 2007, ketika baru awal-awalnya asyik ngeblog, saya secara tidak sengaja sampai pada sebuah blog. Membaca isi blog tersebut membuatku dadaku sesak dan berdebar.

“Bisa-bisanya orang nulis kaya gini, kejam,” dalam pikirku,

Sebagai siswa SMP lugu yang realitasnya hanya berputar pada lingkungan sekolah, tulisan-tulisan di blog tersebut membuatku kaget. Semua isi blog tersebut adalah melecehkan Islam, Allah dan Nabi Muhammad.

“Ini salah, saya harus membenarkannya,” Malam itu juga aku mendebat isi blog tersebut, kemudian pagi, kemudian siang, sampai aku sebarkan blog tersebut kepada teman-temanku waktu itu. Tidak ada hasil.

Pada akhirnya saya mendapat pengetauan baru, bahwa mereka benar-benar membenci Islam, sampai tidak sedikitpun memberi ruang untuk kompromi. Juga, pada akhirnya saya tahu, bahwa orang-orang seperti mereka cukup banyak, mungkin sejak internet mulai hadir di Indonesia. Sampai sekarang orang serperti mereka menjamur di internet, orang yang mungkin di dunia nyata kamu temukan baik, bisa jadi beda 180 derajat di Internet.

Nama forumnya faithfreedom, entah sekarang masih ada atau tidak, saya kurang peduli. Ketika memasuki forum tersebut saya seperti memasuki dunia yang asing, lagi horor. Semuanya membenci Islam dan menjelek-jelekan Islam. Semakin aku menelurusinya semakin aku takut, jika keimanan ini tergoncang. You know what? Saya heran meraka meramu opini mereka dengan dalil qur’an dan sunnah. Mereka menggambarkan Islam sebagai agama yang haus darah dan gila seks, semua digambarkan dengan dalil, sahih.

Tentu aku beranggapan bahwa, “ah, paling mereka cuma menyetir ayat dan hadits saja”

I’ve always been taught, bahwa perang dalam Islam hanya dilakukan ketika mereka diserang duluan. Dalam bahasa yang lebih baku, perang dalam islam adalah bersifat defensif, bukan ofensif.

But, that doesn’t happen.

Ketika sekitar tahun 2011 aku menemukan temanku mem-posting sebuah hadits,

“ketahuilah bahwa surga di bawah kilatan pedang”

Saya baru mendengar hadits tersebut seumur hdup saya, kulihat lagi ternyata perawinya Bukhari, berarti sahih.

Semua hal yang kubaca tersebut, dari faithfreedom sampai hadits tersebut, berakumulasi dan merubah pikiranku. Islam memang keras. Sebagai muslim kamu harus keras. Akui saja bahwa agamamu memang begitu.

Saya merasa bersalah karena saya berpikir berarti selama ini saya lembek dan pengecut. Dari situ saya mulai memberikan respect kepada siapa saja yang bersikap keras terhadap orang kafir. Saya selalu merasa inferior ketika menemukan orang-orang keras seperti itu di social media.

Secara tersirat aku berkesemipulan, perang dalam Islam juga bersifat ofensif. Jikalau ada pemberontakan terhadap pemerintah sekarang mereka adalah benar, karena pemerintahan sekarang kafir!!

Kehidupan pendidikan ku berlanjut ke Sekolah Tinggi Ekonomi Islam. Di sana aku mempelajari fiqih lebih mendalam. Sampai ketika aku mempelajari sebuah kaidah fiqih,

القاعدة العشرون: إذا تعارض ضرران دفع أخفهما.

Idhaa ta’aarodho dhororooni daf’u akhfahuma

Jika ada dua mudharat (bahaya) saling berhadapan maka diambil yang paling ringan.1

Saya, sama sekali, tidak tahu ada kaidah seperti ini dalam Fiqh Islam. Kaidah ini merenovasi mindset saya tentang jihad, tentang pemberontankan. Ketika pemberontakan terhadap penguasa zalim menimbulkan keburukan yang lebih besar, maka itu dilarang. Dahulu kukira kita harus berjihad, apapun pengeorbanannya.

Saya mencoba mempelajari, lebih dalam lagi, bagaimana Jihad yang sebenarnya, bagaimana cara membela Islam yang benar.

Kapan Ibadah Perang ini Dilakukan??

Berjihad dengan perang memiliki keutamaan yang tinggi dalam islam. Tetapi, perang bukanlah seperti ibadah lainnya yang terus tersedia. Untuk perang dibolehkan hanya ketika syaratnya terpenuhi :

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”2

Peperangan dalam Islam dilakukan terhadap :

  1. Orang-orang yang memerangi kamu.
  2. Dilakukan tidak secara melampaui batas.

Jika anda melihat pada buku-buku para ulama, seperti imam As-Syaukani –misalnya- maka anda akan mendapatkan pembahasan jihad ditempatkan diakhir pembahasan fiqih3.

Siapa yang diperangi? Kombatan vs. Non kombatan

Saya faham jika wanita dan anak-anak dilarang dibunuh dalam perang. Tapi saya baru tahu ternyata tidak hanya terbatas pada itu saja, berikut hal-hal yang dilarang Rasulullah :

“Dilarang membunuh anak, perempuan, orang tua dan orang yang sedang sakit.” (Imam Abu Dawud).

Jangan mencabut atau membakar telapak tangan atau menebang pohon-pohon berbuah. Jangan menyembelih domba, sapi atau unta, kecuali untuk makanan.”(Al-Muwatta).

“Dilarang membunuh para biarawan di biara-biara, dan tidak membunuh mereka yang tengah beribadah.” (Musnad Ahmad Ibn Hanbal)

“Dilarang menghancurkan desa dan kota, tidak merusak ladang dan kebun, dan tidak menyembelih sapi.” (Sahih Bukhari, Sunan Abu Dawud)

Ini Menunjukan betapa sangat selektifnya Islam dalam memilih musuh perang. Terus bagaimana dengan terorisme? Jelas sudah.

Tawanan

Tawanan sangat dihargai, berbeda dengan yang kita lihat di media masa maupun film. Waktu itu ketika Perang Badar, umat muslim menawan sekitar 70 orang pasukan musuh, semuanya dirawat.

“Pagi dan Malam mereka memberikanku roti. Kalau ada seorang Muslim yang memiliki sepotong roti ia akan berbagi denganku,” tulis Ibnu Ishaq, seorang penulis biografi awal Nabi Muhammad SAW, saat mengutip seorang tawanan perang.

Tawanan-tawanan perang tersebut juga tidak dipaksa untuk berpindah agama. Nabi Muhammad membiarkan penyembah berhala tawanan Thamamah Al-Hanafi untuk tidak berpindah agama. Nabi lebih memilih meminta para sahabat untuk berdialog bersama Al-Hanafi.

Bahkan, Nabi Muhammad SAW juga tidak membiarkan para tawanan berpakaian lusuh. Nabi memerintahkan para sahabat untuk memberikan pakaian yang layak.  “Setelah Perang Badar, para tawanan perang dibawa, di antara mereka adalah Al-Abbas bin Abdul Muthalib. Dia tidak punya baju, jadi Nabi  mencari kemeja untuknya. Ternyata kemeja Abdullah bin Ubayy memiliki ukuran yang sama. Selanjutnya, Nabi (saw) memberikannya kepada Al-Abbas untuk dipakai,” HR Bukhari.

Etika Membunuh

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik dalam segala sesuatu. Jika kalian membunuh (Baik itu membunuh musuh (orang kafir), melakukan qishosh atau memerangi kau murtad), maka baguskanlah cara membunuhnya” [HR Muslim]

Dalam hadits lain diriwayatkan bahwa kita sangat dianjurkan untuk mengarahkan serangan pada leher musuh, sehingga mengurangi rasa sakit. Selain itu juga dilarang untuk menargetkan serangan ke wajah dan memutilasi musuh.

Aturan ini juga sudah menjelaskan bahwa penggunaan senjata biologis dan senjat pemusnah massal dilarang dalam Islam. Peperangan hanya dibutuhkan secukupnya, tidak boleh melampaui batas.

Bukti : Korban Perang yang Dilakukan Muslim

Raghib as-Sirjani mencoba meneliti jumlah pasukan yang pernah berperang selama 10 tahun di masa Rasulullah dan membandingkannya dengan jumlah korban. Hasilnya adalah sebagai berikut:

  • korban yang gugur kurang lebih sejumlah 262 orang dari pihak umat Islam
  • dan 1022 jiwa dari pihak musuh.
  • Jadi total korban peperangan dari kedua belah pihak adalah 1284 jiwa.

Lalu ia prosentasekan dengan jumlah korbannya. Hasilnya adalah sebagai berikut:

– Prosentase umat Islam yang syahid di medan peperangan dibandingkan dengan jumlah seluruh pasukan Islam hanya 1% saja.

– Prosentase orang-orang musyrikin dibandingkan dengan jumlah seluruh pasukan mereka adalah 2%.

– Prosentase secara keseluruhan dari kedua belah pihak hanya 1,5% saja.

Bandingkanlah dengan prosentase korban yang tewas pada Perang Dunia II. Jumlah pasukan yang turut serta dalam perang dahsyat ini berjumlah 15.600.000 pasukan, jumlah orang yang tewas adalah 54.800.000 jiwa, artinya 351% dari jumlah pasukan. Mengapa bisa demikian? Karena peperangan ini juga memakan korban sipil yang sangat banyak, dan hal ini tidak pernah terjadi di masa Islam.

Perang Saudara?

Perang saudara mendapatkan posisi yang buruk dalam Islam. Ini dijelaskan dalam ayatNya :

Jika terjadi saling membunuh antara dua orang muslim maka yang membunuh dan yang terbunuh keduanya masuk neraka. Para sahabat bertanya, “Itu untuk si pembunuh, lalu bagaimana tentang yang terbunuh?” Nabi Saw menjawab, “Yang terbunuh juga berusaha membunuh kawannya.” (HR. Bukhari)

Kesimpulan

Jihad Perang dalan Islam memiliki keutamaan yang tidak dimiliki ibadah lainnya, tetapi ia bukanlah hal yang pertama. Jihad adalah membela agama Islam, dan Islam sendiri adalah agama kasih bagi semesta alam (rahmatan lil alamin). Dengan begitu sudah seharusnya jihad adalah membuka jalan bagi kasih itu sendiri. Jihad, sehausnya adalah pengejawantahan dari cinta. Sehingga, ketika kita berperang kita tidak berperang dengan nafsu sehingga melampaui batas.

Karena bagaimanapun perang seringkali tidak dapat terhindari. Perang telah ada sejak awal zaman manusia, dan terus ada sampai sekarang. Kita juga tidak dapat memungkiri bahwa ada manusia-manusia yang menginjak-injak kemanusiaan itu sendiri. Di situlah, hadir makna “surga di bawah kilatan pedang”.

Oleh karena itu jihad perang harus dilakukan dengan hati-hati. Kisah yang akan saya sampaikan sebegai penutup ini mungkin bisa menggambarkannya4

Suatu ketika, Rasulullah benar-benar marah kepada Usamah bin Zaid. Ini karena Usamah telah membunuh Mirdas bin Nuhaik dalam insiden setelah penaklukan benteng Khaibar.

Kala itu, kaum muslimin terlibat pertempuran dengan kelompok musyrikin. Seorang musyrik, Mirdas bin Nuhaik, berhasil membunuh beberapa prajurit muslim.

Usamah kemudian memburu Mirdas hingga dia terjepit. Dalam kondisi seperti itu, Mirdas kemudian mengucapkan kalimat syahadat.

Tetapi, Usamah ragu dengan keimanan Mirdas. Sehingga Usamah tetap saja membunuh Mirdas yang jelas telah memeluk Islam.

Mendengar kabar itu, Rasulullah marah. “Kenapa tidak kau belah saja hati orang itu sehingga kau tahu apakah hatinya mengucapkan kalimat syahadat atau tidak?” kata Rasulullah kepada Usamah dengan wajah memerah karena marah.

Usamah kemudian meminta Rasulullah memohonkan ampun kepada Allah SWT. Rasulullah pun menampik hal itu.

“Usamah! Bagaimana engkau akan mempertanggungjawabkan tindakanmu membunuh seseorang yang telah mengucapkan kalimat syahadat pada hari kiamat kelak?” kata Rasulullah sampai dua kali.

Hal itu membuat Usamah merasa kelu. Dia merasa belum memeluk Islam dan ingin memperdalam pemahaman akan ajaran agama itu.

See? “… dan ingin memperdalam pemahaman akan ajaran agama itu.

Pikiranmu akan sampai pada pemaham nilai kemanusiaan yang sempurna jika kamu faham agama ini.


Sumber Pustaka :

1 Dikatakan Dalam kitab Mulakhos mandhumah fiqhiyyah yang di ringkas oleh Abu Humaid Abdullah al Falasi dari kitabnya As syeikh Muhammad Sholeh Al Usaimin dalam kaidah ke 20

2 QS 2:190

3 http://abuiysaa.blogspot.co.id/2011/05/beladiri-dalam-islam_12.html

4 http://www.merdeka.com/ramadan/kisah-rasulullah-marah-pada-usamah-bin-zaid-karena-ceroboh.html

One thought on “Perjalanan Pikiranku Akan Nilai Kemanusiaan Islam – Bunuhlah Mereka di Mana Saja

  1. Benar, memang banyak ayat dan hadist soal perang, tetapi juga banyak ayat tentang kehidupan berkemanusiaan, contoh nabi yang peduli dengan umat dan umat lain nya

    Karena sebaik-baik manusia adalah yang banyak manfaat untuk manusia lain nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *